Breaking News
light_mode

Limbah SPPG Sekincau 1 Kembali Disorot, Publik Minta Sanksi Tegas

  • account_circle Irfan Fajri
  • calendar_month Minggu, 16 Agt 2026
  • print Cetak

Lampung Barat, WARTA HUKUM — Limbah SPPG Sekincau 1 kembali menjadi sorotan setelah beredar video yang memperlihatkan kondisi saluran pembuangan akhir yang diduga masih mengandung busa, kotoran, berwarna, serta menimbulkan aroma tidak sedap. Persoalan ini muncul setelah sebelumnya pengelolaan limbah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sekincau 1 mendapat perhatian dan teguran dari Satgas MBG Kabupaten Lampung Barat.

Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan publik. Apakah pembenahan sistem pengolahan limbah, termasuk Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), benar-benar telah dilakukan secara optimal?

Jika IPAL telah diperbaiki dan berfungsi sesuai ketentuan, masyarakat berhak mendapatkan bukti objektif berupa hasil pengujian kualitas air limbah. Bukan sekadar pernyataan bahwa limbah telah aman.

Limbah SPPG Sekincau 1 Kembali Dipertanyakan

Persoalan limbah SPPG Sekincau 1 bukan kali pertama mencuat. Pada Juli 2026, Satgas MBG Kecamatan Sekincau sebelumnya telah melakukan peninjauan lapangan dan menemukan kondisi air limbah yang disebut masih mengandung endapan minyak dan kotoran, disertai busa serta aroma tidak sedap.

Limbah tersebut juga disebut mengalir menuju drainase dan area perkebunan warga.

Kini, video yang kembali beredar memperlihatkan kondisi saluran pembuangan akhir yang secara visual masih menunjukkan adanya busa dan kotoran.

Temuan tersebut tentu membutuhkan pemeriksaan resmi. Sebab, kondisi visual saja belum cukup untuk menyimpulkan apakah air limbah telah melampaui baku mutu. Penentuannya harus dilakukan melalui pengambilan sampel dan pengujian laboratorium yang sah.

Namun, apabila hasil pemeriksaan nantinya membuktikan adanya pelampauan baku mutu atau pelanggaran kewajiban lingkungan, persoalannya tidak lagi sekadar masalah teknis pengelolaan dapur.

Aturan Limbah SPPG Sekincau 1 Harus Dijalankan

Pengelolaan air limbah memiliki dasar hukum yang jelas. UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, sebagaimana telah mengalami perubahan, menempatkan baku mutu lingkungan sebagai instrumen untuk menentukan terjadinya pencemaran. UU tersebut juga mengatur kewajiban dan penegakan hukum lingkungan.

Selain itu, PP Nomor 22 Tahun 2021 mengatur perlindungan dan pengelolaan mutu air, pengawasan, serta penerapan sanksi administratif terhadap pelanggaran lingkungan. Sanksi administratif dapat menjadi instrumen untuk memastikan kewajiban lingkungan benar-benar dipenuhi.

Ketentuan baku mutu air limbah juga diatur melalui Permen LH Nomor 5 Tahun 2014 beserta perubahannya. Regulasi tersebut menjadi salah satu rujukan dalam penetapan baku mutu air limbah sesuai jenis kegiatan dan ketentuan yang berlaku.

Karena itu, apabila hasil pemeriksaan resmi menemukan pelanggaran, pihak berwenang tidak boleh berhenti pada teguran berulang.

Publik Minta Sanksi Tegas

Founder GERMASI, Ridwan Maulana, S.H., C.PL., CDRA, menilai persoalan tersebut harus dijawab dengan bukti, bukan sekadar pernyataan bahwa IPAL telah berfungsi.

Menurut Ridwan, apabila pengelola meyakini air limbah yang dibuang telah memenuhi baku mutu, pembuktiannya dapat dilakukan melalui pengujian laboratorium yang sah.

“Jangan masyarakat hanya disuguhi pernyataan bahwa limbah sudah aman, bersih dan sesuai aturan, sementara kondisi visual di lapangan justru memperlihatkan hal berbeda. Kalau memang sudah memenuhi baku mutu, buktikan dengan hasil uji laboratorium dan buka hasilnya secara transparan kepada publik,” tegas Ridwan.

Ia juga mempertanyakan sejauh mana pengawasan yang telah dilakukan pihak terkait.

“Kalau aturan sudah ada, pengawasan sudah dilakukan, bahkan persoalan ini sudah berulang kali menjadi perhatian dan sampai mendapatkan teguran, tetapi persoalan yang sama kembali muncul, lalu apa yang sebenarnya dilakukan setelah teguran itu?” ujarnya.

Menurutnya, jangan sampai muncul kesan bahwa pengelola SPPG Sekincau 1 tidak serius menindaklanjuti hasil pengawasan.

“Jangan sampai publik melihat seolah-olah SPPG ini kebal terhadap aturan. Kalau benar ada pelanggaran, harus ada tindakan. Jangan sampai teguran hanya menjadi formalitas, sementara persoalan di lapangan terus berulang,” tegasnya.

BGN RI Diminta Tidak Ragu Bertindak

Ridwan menegaskan bahwa kritik terhadap pengelolaan limbah bukan berarti menolak program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Sebaliknya, ia menilai program MBG harus dijaga karena menyangkut kepentingan masyarakat luas. Pengelolaan lingkungan di setiap unit pelaksana juga menjadi bagian penting untuk menjaga kepercayaan publik.

“Program MBG adalah program yang baik dan menyangkut kepentingan masyarakat. Justru karena programnya baik, jangan sampai persoalan limbah di belakang dapur kemudian mencederai kepercayaan masyarakat terhadap program tersebut,” katanya.

Ridwan bahkan meminta Badan Gizi Nasional (BGN) RI mengambil tindakan apabila pemeriksaan resmi menemukan pelanggaran.

“Kalau memang terbukti tidak memenuhi ketentuan dan pengelola tidak serius melakukan pembenahan, BGN RI harus berani memberikan sanksi tegas. Bila diperlukan, suspend sementara sampai seluruh kewajiban diperbaiki dan dinyatakan memenuhi ketentuan. Jangan menunggu persoalan ini menjadi lebih besar,” tegasnya.

Potensi Sanksi Jika Pelanggaran Terbukti

Secara hukum, sanksi tidak otomatis dapat dijatuhkan hanya berdasarkan video atau kondisi visual. Harus ada pemeriksaan dan pembuktian sesuai kewenangan.

Namun, apabila ditemukan pelanggaran terhadap kewajiban lingkungan atau persetujuan yang berlaku, kerangka hukum lingkungan menyediakan sejumlah instrumen sanksi administratif.

Dalam rezim UU PPLH yang telah diubah, sanksi administratif dapat berupa teguran tertulis, paksaan pemerintah, denda administratif, pembekuan perizinan berusaha, hingga pencabutan perizinan berusaha. PP Nomor 22 Tahun 2021 juga mengatur mekanisme penerapan sanksi administratif tersebut.

Lebih jauh, Pasal 100 UU PPLH mengatur ancaman pidana bagi pelanggaran baku mutu air limbah, dengan ketentuan pidana dapat diterapkan apabila sanksi administratif yang telah dijatuhkan tidak dipatuhi atau pelanggaran dilakukan lebih dari satu kali. Ketentuan yang tercantum dalam UU tersebut memuat ancaman pidana penjara paling lama tiga tahun dan denda paling banyak Rp3 miliar.

Artinya, apabila persoalan ini nantinya terbukti sebagai pelanggaran berulang dan memenuhi seluruh unsur hukum yang dipersyaratkan, aparat serta pejabat berwenang dapat menempuh langkah penegakan hukum sesuai ketentuan.

Satgas MBG Diminta Tidak Berhenti pada Teguran

Sementara itu, saat dikonfirmasi terkait kembali beredarnya video yang memperlihatkan kondisi saluran pembuangan limbah SPPG Sekincau 1, Sekretaris Satgas MBG Kabupaten Lampung Barat, Eric Enrico, menyatakan pihaknya akan menyampaikan persoalan tersebut kepada ketua.

“Ini akan saya laporkan kepada ketua,” jawab Eric.

Pernyataan tersebut menunjukkan persoalan kembali menjadi perhatian Satgas MBG. Namun, publik kini membutuhkan lebih dari sekadar laporan internal.

Jika persoalan serupa memang kembali ditemukan, langkah berikutnya seharusnya jelas: pemeriksaan lapangan, pengambilan sampel, pengujian laboratorium, evaluasi IPAL, pemeriksaan dokumen lingkungan, serta penentuan tindakan berdasarkan hasil pemeriksaan.

Apabila ditemukan pelanggaran, publik meminta Satgas MBG Kabupaten Lampung Barat, Pemerintah Kabupaten Lampung Barat melalui perangkat daerah yang berwenang, Dinas Lingkungan Hidup, serta BGN RI mengambil langkah tegas sesuai kewenangan masing-masing.

Transparansi Menjadi Kunci

Pertanyaan publik kini sederhana. Jika IPAL SPPG Sekincau 1 memang telah diperbaiki, kapan perbaikan dilakukan? Apakah sudah dilakukan pengujian laboratorium setelah perbaikan? Apa parameter yang diuji? Dan apakah hasilnya memenuhi baku mutu yang berlaku?

Pertanyaan itu penting dijawab secara terbuka agar masyarakat tidak hanya mendapatkan klaim bahwa limbah sudah aman.

Mitra Adhyaksa juga telah mencoba meminta konfirmasi kepada Kepala SPPG Sekincau 1, Muhammad Samsi, terkait kembali munculnya persoalan tersebut. Namun hingga berita ini diterbitkan, yang bersangkutan belum memberikan jawaban.

Media ini membuka ruang hak jawab dan klarifikasi bagi pengelola SPPG Sekincau 1 maupun pihak terkait sepanjang disampaikan sesuai ketentuan jurnalistik.

Sebab, persoalan lingkungan tidak boleh diselesaikan dengan saling melempar tanggung jawab. Begitu pula program MBG tidak boleh kehilangan kepercayaan publik hanya karena persoalan pengelolaan limbah.

Jika terbukti melanggar, sanksi harus dijalankan. Jika tidak terbukti, hasil pemeriksaan harus dibuka secara transparan. Publik berhak mendapatkan kepastian berdasarkan data, bukan asumsi.

(Irfan/Tim)

Slug: limbah-sppg-sekincau-1

Meta Deskripsi: Limbah SPPG Sekincau 1 kembali disorot. Publik meminta pemeriksaan, transparansi hasil uji laboratorium, dan sanksi tegas jika terbukti melanggar.

 

  • Penulis: Irfan Fajri

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dari Nyandu yang Menipu hingga Bersih-Bersih Narkoba

    Dari Nyandu yang Menipu hingga Bersih-Bersih Narkoba

    • calendar_month Rabu, 23 Sep 2026
    • account_circle Arman/Ansori
    • 0Komentar

    Pergeseran Istilah, Gaya Hidup, dan Perjuangan Melawan Narkoba JAKARTA,Wartahukum.id — Perjalanan panjang perang melawan narkotika tidak hanya berbicara mengenai penindakan terhadap peredaran narkoba, tetapi juga tentang bagaimana bahasa membentuk cara masyarakat memahami bahaya narkotika. Istilah seperti candu, nyandu, apyun, sakau, nyimeng, hingga ngefly memiliki sejarah dan konteks penggunaan yang berbeda. Dalam perkembangannya, sebagian istilah tersebut […]

  • Buruh PT Ersindo Beton, Berpuluh Tahun Mengabdi Dipecat Tanpa Pesangon, Minta Bantu Lembaga Hukum Perjuangkan Hak 

    Buruh PT Ersindo Beton, Berpuluh Tahun Mengabdi Dipecat Tanpa Pesangon, Minta Bantu Lembaga Hukum Perjuangkan Hak 

    • calendar_month Selasa, 9 Jun 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Buruh Berpuluh Tahun Mengabdi Dipecat Tanpa Pesangon, Minta Bantu Lembaga Hukum Perjuangkan Hak  LAMPUNG SELATAN,wartahukum.id—Tiga orang pekerja yang telah mengabdi selama puluhan tahun menghadapi nasib yang memprihatinkan. Mereka diputus hubungan kerjanya secara sepihak oleh PT Ersindo Beton Abadi tanpa mendapatkan hak pesangon dan penghargaan masa kerja, bahkan dalam surat yang diberikan oleh pihak perusahaan secara […]

  • Diduga Proyek Penanganan Tanggul Jebol di BTB 19 Minim Standar Keselamatan Kerja

    Diduga Proyek Penanganan Tanggul Jebol di BTB 19 Minim Standar Keselamatan Kerja

    • calendar_month Jumat, 7 Agt 2026
    • account_circle Muhammad. Toyib
    • 0Komentar

    Proyek Penanganan Tanggul Jebol di BTB 19 Diduga Belum Penuhi Standar K3 KERAWANG,wartahukum.id—Proyek penanganan tanggul jebol di kawasan BTB 19, Dusun Badami, Desa Margakaya, Kecamatan Telukjambe Barat, Kabupaten Karawang, diduga belum memenuhi standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Berdasarkan pantauan di lokasi pada Jumat (7/8/2026), aktivitas pekerjaan masih berlangsung tanpa terlihat adanya papan informasi proyek […]

  • Rutan Kelas IIB Manna Ikuti Penyerahan Laporan Hasil Pemeriksaan BPK RI atas Laporan Keuangan TA 2025 Secara Daring

    Rutan Kelas IIB Manna Ikuti Penyerahan Laporan Hasil Pemeriksaan BPK RI atas Laporan Keuangan TA 2025 Secara Daring

    • calendar_month Senin, 3 Agt 2026
    • account_circle Hengki Wijaya, wartawan Tanggerang
    • 0Komentar

    Rutan Kelas IIB Manna Ikuti Penyerahan LHP BPK RI Secara Daring Manna,Wartahukum.id – Rutan Kelas IIB Manna mengikuti kegiatan Penyerahan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI) atas Laporan Keuangan Tahun Anggaran (TA) 2025 yang dilaksanakan secara daring. Kegiatan tersebut diikuti Kepala Rutan Kelas IIB Manna, Hannibal, S.Sos., M.Si., didampingi Kepala […]

  • Pengawas Proyek Jalan Kasui–Air Ringkih Bungkam Saat Ditanya Progres dan Kualitas; Warga Khawatir Pembangunan Cepat Rusak

    Pengawas Proyek Jalan Kasui–Air Ringkih Bungkam Saat Ditanya Progres dan Kualitas; Warga Khawatir Pembangunan Cepat Rusak

    • calendar_month Sabtu, 1 Agt 2026
    • account_circle ROJALI
    • 0Komentar

    *Pengawas Proyek Jalan Kasui–Air Ringkih Bungkam Saat Ditanya Progres dan Kualitas; Warga Khawatir Pembangunan Cepat Rusak*   *WAY KANAN*, Wartahukum.id – Pembangunan ruas jalan Kasui–Air Ringkih yang telah dinantikan puluhan tahun oleh masyarakat akhirnya mulai terealisasi. Namun, di tengah harapan akan konektivitas yang lebih baik, muncul kekecewaan saat Awak Media Wartahukum.id berupaya mengonfirmasi langsung kepada […]

  • Turnamen Domino HUT RI ke-81 Ditutup, Ketua DPW MADAS Nusantara Jabar Tekankan Sportivitas dan Kebersamaan

    Turnamen Domino HUT RI ke-81 Ditutup, Ketua DPW MADAS Nusantara Jabar Tekankan Sportivitas dan Kebersamaan

    • calendar_month Senin, 17 Agt 2026
    • account_circle Muhammad Toyyib
    • 0Komentar

    BEKASI, WARTA HUKUM – Turnamen Domino HUT RI ke-81 yang digelar Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) MADAS Nusantara Jawa Barat resmi berakhir. Kegiatan yang berlangsung di kantor DPW MADAS Nusantara, Bekasi, tersebut ditutup dengan penyerahan hadiah kepada para pemenang pada 16 Agustus 2026. Penutupan turnamen berlangsung dalam suasana meriah dan penuh keakraban. Para pengurus, kader, peserta, […]

expand_less