Antrean Solar Bersubsidi Memanas, Warga Soroti Pelangsiran
- account_circle Hengki kabiro Tangerang
- calendar_month 20 jam yang lalu
- print Cetak

Antrean Solar Bersubsidi di Batulicin Berujung Keributan
BATULICIN,wartahukum.id—Antrean solar bersubsidi di salah satu SPBU Jalan Simpang Tiga Pelabuhan Ferry, Batulicin, Kabupaten Tanah Bumbu, memanas pada 19 Agustus 2026. Keributan tersebut diduga melibatkan dua pria yang oleh warga disebut sama-sama melakukan aktivitas pelangsiran BBM bersubsidi.
Informasi mengenai kejadian tersebut berasal dari seorang warga yang mengaku menyaksikan langsung peristiwa di lokasi. Namun, sejumlah dugaan dalam kejadian tersebut masih memerlukan konfirmasi dari pihak terkait.
-
Keributan Bermula dari Antrean Solar
Menurut keterangan saksi, keributanQ bermula ketika seorang pria berinisial W datang bersama empat orang lainnya ke lokasi antrean Solar bersubsidi.
Kedatangan W kemudian memicu ketegangan dengan seorang pria berinisial M yang berada di sekitar antrean.
Situasi selanjutnya memanas hingga terjadi tindakan fisik. Saksi menyebut W diduga mengeluarkan senjata tajam. Sementara itu, kerah baju M disebut tertarik hingga robek dan bagian lehernya mengalami luka. Kacamata yang dikenakan M juga disebut pecah.
“Yang saya lihat mereka sempat ribut. W datang bersama empat orang. W disebut mengeluarkan senjata tajam. Kemudian M ditarik bagian kerah bajunya sampai robek dan lehernya terluka. Kacamatanya juga pecah,” ujar warga yang mengaku menyaksikan kejadian tersebut.
-
Saksi Sebut Dugaan Pelangsiran Masih Perlu Konfirmasi
Saksi menegaskan bahwa peristiwa tersebut tidak serta-merta dapat disebut sebagai pengeroyokan. Menurutnya, W datang bersama empat orang lainnya, kemudian terjadi keributan dengan M yang berlanjut pada tindakan fisik.
Warga tersebut juga menyebut W dan M diduga sama-sama melakukan aktivitas pelangsiran Solar bersubsidi. Meski demikian, dugaan tersebut masih membutuhkan konfirmasi lebih lanjut dari pihak terkait.
-
Warga Khawatir Konflik Semakin Meluas
Peristiwa tersebut menjadi perhatian karena persoalan antrean Solar bersubsidi tidak hanya menimbulkan keluhan masyarakat. Gesekan antarpihak juga mulai muncul hingga dugaan tindakan kekerasan di lokasi.
Seorang warga bahkan meminta pihak berwenang segera menangani persoalan pelangsiran agar konflik tidak semakin meluas.
“Kalau pelangsiran ini dibiarkan terus-menerus, yang ada nanti saling bunuh,” kata warga tersebut.
Menurut warga, pengawasan distribusi Solar bersubsidi perlu diperketat. Masyarakat yang membutuhkan BBM untuk keperluan sehari-hari seharusnya tidak menghadapi antrean panjang akibat dugaan aktivitas pelangsiran.
-
DPRD Tanah Bumbu Sebelumnya Soroti Distribusi BBM
Persoalan distribusi BBM bersubsidi di Tanah Bumbu sebelumnya juga mendapat perhatian Komisi II DPRD Tanah Bumbu.
DPRD telah dua kali menggelar rapat bersama Pertamina Regional Kalimantan Selatan, pengelola SPBU, dan pihak terkait untuk membahas kesulitan masyarakat memperoleh Solar dan Pertalite.
Ketua Komisi II DPRD Tanah Bumbu, Andi Erwin Prasetya, sebelumnya menyoroti dugaan praktik pelangsiran BBM bersubsidi di lapangan. Ia juga meminta pengawasan distribusi BBM subsidi agar berjalan tepat sasaran.
-
Warga Minta Pengawasan Diperketat
Kondisi terbaru di lapangan kembali menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas pengawasan distribusi BBM bersubsidi.
Warga meminta Pertamina Regional Kalimantan Selatan memperkuat pengawasan, terutama terhadap dugaan pembelian berulang dan praktik pelangsiran yang berpotensi merugikan masyarakat.
Selain itu, pengelola SPBU juga perlu memperkuat pengaturan antrean serta pengawasan di lokasi. Dengan demikian, persoalan distribusi BBM tidak berkembang menjadi konflik antarwarga.
-
Dugaan Senjata Tajam Masih Menunggu Konfirmasi Aparat
Bagi masyarakat, persoalan tersebut bukan lagi sekadar sulitnya memperoleh Solar bersubsidi. Antrean panjang, dugaan pelangsiran, dan konflik di lokasi SPBU kini menambah kekhawatiran terhadap keamanan dan ketertiban.
Karena itu, warga meminta Pertamina mengevaluasi kondisi tersebut dan mengambil tindakan apabila menemukan pelanggaran dalam distribusi BBM bersubsidi.
Sementara itu, kebenaran mengenai dugaan penggunaan senjata tajam dan tindakan kekerasan masih memerlukan konfirmasi dari pihak-pihak yang terlibat maupun aparat penegak hukum apabila terdapat laporan resmi.
Redaksi membuka ruang klarifikasi bagi pihak berinisial W, pihak berinisial M, pengelola SPBU, Pertamina Regional Kalimantan Selatan, maupun pihak berwenang terkait peristiwa tersebut.
(Hengki/rls)
- Penulis: Hengki kabiro Tangerang
- Editor: Ansori




