Destana Sidoharjo Bentuk 35 Warga Siaga Hadapi Bencana
- account_circle Arman/Ansori
- calendar_month 21 jam yang lalu
- print Cetak

Destana Sidoharjo Perkuat Kesiapsiagaan Warga Menghadapi Bencana
PRINGSEWU,wartahukum.id—Destana Sidoharjo di Kecamatan Pringsewu, Kabupaten Pringsewu, mulai memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi potensi bencana. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Lampung bersama Mitra Bentala Lampung meluncurkan pelatihan dan pembentukan Desa Tangguh Bencana (DESTANA) Tahun 2026 pada Selasa, 18 Agustus 2026.
Kegiatan tersebut melibatkan 35 warga yang terdiri dari unsur masyarakat dan aparatur pekon. Selama lima hari, peserta mengikuti pelatihan untuk memperkuat kapasitas masyarakat dalam menghadapi berbagai ancaman bencana di wilayahnya.
-
35 Warga Disiapkan Menjadi Relawan Destana
Para peserta akan menjalankan peran dalam Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) serta barisan Relawan Destana Pekon Sidoharjo. Melalui pelatihan tersebut, masyarakat mendapatkan bekal untuk meningkatkan kesiapsiagaan sebelum bencana terjadi.
Mashabi, perwakilan Direktur Mitra Bentala Lampung, mengatakan pembentukan DESTANA bertujuan membangun kemandirian masyarakat dalam menghadapi bencana.
“Tujuan utama pembentukan DESTANA ini adalah melahirkan kemandirian total. Kita ingin mewujudkan ketangguhan masyarakat yang kokoh langsung di tingkat desa,” tegas Mashabi, perwakilan Direktur Mitra Bentala Lampung dengan penuh optimisme.
-
BPBD Pringsewu Dorong Budaya Siaga
Plt Kalaksa BPBD Pringsewu, Arif Nugroho, menjelaskan bahwa masyarakat berada di lokasi ketika bencana terjadi. Karena itu, warga membutuhkan kemampuan untuk mengambil langkah awal sebelum bantuan dari pemerintah tiba.
“Bantuan dari kabupaten, provinsi, atau pusat pasti butuh waktu untuk sampai. Di menit-menit kritis awal, keselamatan warga ditentukan oleh kesiapan mereka sendiri. Saya ingin pengurus DESTANA menjadi agen perubahan yang menanamkan budaya siaga dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Arif lugas.
Menurut Arif, kesiapan masyarakat menjadi bagian penting dalam menghadapi kondisi darurat. Dengan demikian, warga dapat mengambil langkah awal secara tepat sembari menunggu dukungan dari pihak terkait.
-
Paradigma Penanggulangan Bencana Mulai Bergeser
Pembentukan DESTANA juga memperkuat pendekatan pengurangan risiko bencana sebelum bencana terjadi. Langkah tersebut sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.
Agus Purnomo, Analis Kebencanaan Ahli Muda BPBD Pringsewu, mengatakan strategi penanggulangan bencana kini tidak hanya berfokus pada penanganan setelah bencana terjadi.
“Paradigma kita sudah bergeser total. Fokus utama kita sekarang adalah membangun ketangguhan sebelum bencana itu datang. Kita tidak lagi hanya bicara soal evakuasi dan rehabilitasi, melainkan bagaimana melatih warga agar mampu mengenali ancaman, memetakan kerentanan, dan melindungi diri mereka sendiri secara mandiri,” pungkas Agus.
-
Destana Sidoharjo Bangun Masyarakat Tangguh
Melalui pelatihan selama lima hari, masyarakat Pekon Sidoharjo mendapatkan kesempatan untuk meningkatkan pengetahuan dan kapasitas dalam menghadapi risiko bencana.
Selain itu, sinergi antara pemerintah, komunitas, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam membangun sistem kesiapsiagaan di tingkat pekon. Dengan pembentukan DESTANA, Pekon Sidoharjo mulai memperkuat langkah menuju masyarakat yang lebih siap, mandiri, dan tangguh menghadapi ancaman bencana.
(Arman)
- Penulis: Arman/Ansori
- Editor: Ansori




