Hilirisasi Kakao Pesawaran Diperkuat, Petani Dapat Bantuan Solar Dryer
- account_circle Rudiyatmoko wartawan kab, pesawaran
- calendar_month 0 menit yang lalu
- print Cetak

Pemprov Lampung, Pemkab Pesawaran, OJK, dan PNM Berkolaborasi Tingkatkan Nilai Jual Kakao serta Kemandirian Ekonomi Petani
PESAWARAN,wartahukum.id – Kolaborasi pemerintah, sektor swasta, dan lembaga jasa keuangan terus didorong untuk memperkuat hilirisasi kakao di Kabupaten Pesawaran, Lampung. Upaya ini dilakukan melalui pemberdayaan masyarakat, pelatihan, penyerahan bantuan alat pengering tenaga surya (solar dryer), serta pengembangan ekonomi daerah berbasis komoditas kakao.
Kegiatan tersebut berlangsung di Pekon Ampai, Kecamatan Marga Punduh, Kamis (8/10/2026), dan dihadiri Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, Bupati Pesawaran Hj. Nanda Indira B., S.E., M.M., serta Wakil Bupati Pesawaran Antonius Muhammad Ali, S.H. Agenda itu juga dirangkaikan dengan kunjungan Gubernur Lampung bersama tokoh adat Pekon Ampai yang dikenal sebagai desa wisata budaya.
-
Solar Dryer Jadi Solusi Kendala Pascapanen Kakao
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menyampaikan bahwa kakao merupakan salah satu komoditas strategis yang berpotensi mendorong perekonomian Kabupaten Pesawaran. Namun, peningkatan produksi perlu diikuti dengan penguatan proses pascapanen dan pengolahan agar petani memperoleh nilai tambah yang lebih besar.
Salah satu kendala yang dihadapi petani adalah keterbatasan fasilitas pengeringan, terutama ketika panen berlangsung pada musim hujan. Kondisi tersebut dapat membuat petani menjual kakao dalam keadaan basah sehingga harga jual yang diterima belum optimal.
Bantuan alat pengering tenaga surya dari PT Permodalan Nasional Madani (PNM) diharapkan dapat membantu mengatasi kendala tersebut. Teknologi ini diharapkan menghasilkan kakao kering dengan kualitas yang lebih konsisten sepanjang tahun.
Gubernur menjelaskan, harga kakao basah dalam kondisi tertentu berada pada kisaran Rp20.000 hingga Rp30.000 per kilogram. Setelah dikeringkan, harga kakao dapat mencapai sekitar Rp70.000 hingga Rp80.000 per kilogram.
Perbedaan harga tersebut menunjukkan pentingnya proses pascapanen dalam meningkatkan nilai jual kakao. Karena itu, pengembangan industri pengolahan di dekat sentra produksi dinilai dapat membuka peluang bagi masyarakat untuk terlibat dalam penciptaan nilai tambah, bukan hanya menjual bahan mentah.
“Saya berharap Pekon Ampai dapat berkembang menjadi pusat pengembangan sekaligus produksi solar dryer yang dapat direplikasi dan didistribusikan ke sentra-sentra kakao lainnya di sepanjang pesisir Lampung. Langkah ini diharapkan memperluas pemanfaatan teknologi tepat guna sekaligus mendorong hilirisasi kakao dimulai dari tingkat desa,” kata Gubernur Mirza.
-
Bupati Pesawaran Dorong Pemanfaatan Bantuan Secara Berkelanjutan
Bupati Pesawaran Hj. Nanda Indira B., S.E., M.M., menyambut baik dukungan lintas sektor dalam pengembangan kakao. Menurutnya, bantuan solar dryer merupakan bentuk nyata tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR) yang menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus membuka peluang usaha produktif berbasis potensi lokal.
“Ini merupakan momentum yang sangat luar biasa bagi kita semua, khususnya bagi pergerakan ekonomi masyarakat di Kecamatan Marga Punduh. Bantuan solar dryer ini merupakan wujud nyata tanggung jawab sosial perusahaan yang langsung menyentuh kebutuhan mendasar masyarakat kita,” ujar Bupati Nanda.
Ia mengingatkan masyarakat dan pelaku UMKM penerima manfaat agar menjaga serta merawat fasilitas tersebut secara bersama-sama sehingga dapat digunakan dalam jangka panjang dan memberikan manfaat berkelanjutan bagi produktivitas usaha.
Bupati juga berharap bantuan tersebut menjadi langkah awal bagi hadirnya dukungan produktif lainnya untuk mempercepat kemandirian ekonomi masyarakat. Menurutnya, pembangunan daerah membutuhkan keterlibatan pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat sebagai pelaku utama kegiatan ekonomi.
“Kami sangat menghargai komitmen Pemerintah Provinsi Lampung yang terus berupaya mendekatkan masyarakat dengan pihak perusahaan. Sinergi antara pemerintah daerah, sektor swasta, dan masyarakat seperti inilah yang menjadi kunci dalam memperkuat perekonomian daerah agar masyarakat semakin mandiri dan sejahtera,” tambahnya.
Bantuan solar dryer dari PT PNM disalurkan untuk mendukung pengembangan kakao di tiga desa, yakni Desa Sidodadi, Pekon Ampai, dan Desa Maja. Fasilitas tersebut diharapkan membantu petani mengatasi kendala pengeringan, menjaga kualitas hasil panen, dan membuka peluang usaha pengolahan kakao di tingkat lokal.
-
OJK Dorong Ekosistem Kakao Terintegrasi dari Hulu ke Hilir
Pelaksana Harian Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Lampung, Ety Eliati, menyampaikan bahwa Kabupaten Pesawaran memiliki luas lahan kakao sekitar 25.000,8 hektare dengan produksi sekitar 21.000 ton per tahun.
Potensi tersebut dinilai perlu didukung ekosistem usaha yang terintegrasi, mulai dari budidaya dan pascapanen hingga pembiayaan, pengolahan, serta pemasaran.
OJK mendorong pengembangan kakao melalui skema closed-loop, yakni ekosistem usaha yang menghubungkan sektor hulu dan hilir. Skema ini mencakup akses pembiayaan bagi petani, mitigasi risiko melalui lembaga penjamin, kepastian pasar dan harga melalui pembeli atau offtaker serta industri pengolahan, hingga pendampingan dari pemerintah daerah dan akademisi.
Melalui pendekatan tersebut, petani diharapkan tidak hanya memiliki akses terhadap modal dan sarana produksi, tetapi juga memperoleh dukungan untuk menjaga kualitas hasil panen dan memperluas akses pasar.
-
PNM Siapkan Pembiayaan Rp318 Juta untuk 50 Debitur
Dukungan pembiayaan juga disiapkan PT PNM. Pemimpin Regional 1 PNM, Endang Nurjani, yang mewakili Direktur Utama PT PNM, menyampaikan bahwa perusahaan akan merealisasikan pembiayaan sebesar Rp318 juta kepada 50 debitur pelaku usaha tani kakao.
Pembiayaan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kapasitas usaha sekaligus mendorong peningkatan pendapatan petani.
Di Provinsi Lampung, PNM tercatat memiliki sekitar 490.000 nasabah dengan outstanding pembiayaan mencapai sekitar Rp2 triliun hingga September 2026. Sementara itu, penyaluran pembiayaan sepanjang 2026 telah mencapai Rp2,04 triliun.
Khusus di Kabupaten Pesawaran, jumlah nasabah PNM Mekaar tercatat sebanyak 29.383 orang dengan outstanding pembiayaan sekitar Rp125,86 miliar. PNM juga didukung 11 cabang, 148 pendamping, dan 1.940 kelompok nasabah di wilayah tersebut.
-
Hilirisasi Diharapkan Tingkatkan Pendapatan Petani
Penguatan fasilitas pascapanen, akses pembiayaan, dan kemitraan usaha diharapkan dapat mendorong pengembangan kakao Pesawaran dari sekadar peningkatan produksi menuju pengolahan yang menghasilkan nilai tambah lebih besar.
Kolaborasi antara pemerintah, lembaga keuangan, sektor swasta, dan masyarakat menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem kakao yang lebih kuat. Dengan dukungan tersebut, potensi perkebunan daerah diharapkan memberikan manfaat lebih luas bagi petani, pelaku UMKM, dan perekonomian masyarakat Pesawaran.
Rudiyatmoko, Pesawaran — Melaporkan
- Penulis: Rudiyatmoko wartawan kab, pesawaran
- Editor: Ansori




